Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

PENILAIAN HOLISTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

PENILAIAN HOLISTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

1. Pengertian Penilaian ( evaluasi ) Belajar
Menilai pembelajaran berarti mengumpulkan, menganalisis, meringkaskan, dan menginterpretasi data untuk menghargai unjuk kerja dan prestasi belajar siswa. Penilaian yang selama ini lebih ditekankan pada prestasi belajar siswa yang didapat dari hasil tes yang dibuat oleh guru harus diubah dengan paradigma baru tentang penilaian yang diluruskan oleh teori konstruktifis sosial belajar yang mengemukakan bahwa belajar bukanlah sekedar mendapatkan nilai hasil tes, tetapi juga memfokuskan pada pengalaman belajar yang bermakna.
Berkaitan dengan hal tersebut, Duncan dan Dunn ( 1992 ), Moore (1980) mengemukakan bahwa evaluasi adalah suatu proses mengumpulkan , menganalisis data, mempertimbangkan, dan membuat keputusan tentang hasil belajar siswa.
Senada dengan hal di atas, penilaian pada hakikatnya merupakan suatu proses, yang menurut Crobach ( 1963, lewat Burhan Nurgiyanto, 198 : 188 ) adalah pengumpulan dan penggunaan informasi yang dipergunakan sebagai dasar pembuatan keputusan tentang program pendidikan. Keputusan tersebut adalah pilihan di antara berbagai arah tindakan.
Tuckman ( 1975 : 12 ) mengartikan bahwa evaluasi adalah suatu proses untuk mengetahui ( menguji ) apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditentukan.
Evaluasi atau penilaian adalah suatu proses pengumpulan, pengolahan, dan pemaknaan data ( informasi ) untuk menentukan kualitas sesuatu yang terkandung dalam data tersebut ( Koufman dan Thomas, 1980; Batzle, 1992; Toutman, 1994 ). Dalam kaitannya dengan pembelajaran, data atau informasi itu diperoleh melalui serangkaian kegiatan atau peristiwa yang terjadi di dalam pembelajaran, yang meliputi apa yang dilakukan guru, apa yang terjadi di kelas, dan apa yang dilakukan dan diperoleh siswa.
Dengan demikian, evaluasi belajar seyogyanya tidak hanya untuk mengukur hasil belajar siswa atas suatu materi dan membandingkannya dengan siswa lain. Tetapi, lebih dari sekedar itu. Proses belajar itu pun harus dievaluasi. Sebab, sulit rasanya siswa mencapai hasil belajar yang optimal jika evaluasi yang dialaminya kurang baik. Baik dan buruknya proses dan hasil belajar hanya akan diketahui jika guru melakukan evaluasi dengan benar, dan bersungguh – sungguh memanfaatkan hasil guna perbaikan kualitas guru dan pembelajaran. Perbaikan ini pada akhirnya akan berdampak pada perbaikan sikap, usaha, dan pencapaian belajar siswa sendiri.

Gronlound ( 1990 : 6 – 8 ) menyebutkan 5 prinsip umum evaluasi yang perlu diperhatikan :
a.Menentukan tujuan evaluasi.
Tujuan evaluasi harus ditentukan terlebih dahulu agar evaluasi tersebut terarah. Karena penentuan tujuan akan berpengaruh pada teknik yang akan digunakan. Apa yang di evaluasi dan bagaimana hasil yang ingin dicapai.Misalnya jika tujuan kita ingin mengevaluasi kemampuan berbicara siswa, kita harus menggunakan tes lisan.
b.Teknik harus disesuaikan dengan tujuan.
Seperti yang telah disebutkan pada poin sebelumnya, bahwa sebelum menentukan teknik, harus menentukan tujuan terlebih dahulu karena kedua hal ini sangat berkaitan. Contohnya, jika kita ingin menilai kemampuan menulis siswa kita menggunakan tes tulis.
c.Evaluasi menyeluruh ( komprehensif ) memerlukan bermacam – macam teknik evaluasi
Untuk menilai seluruh kemampuan siswa tidak cukup dengan satu teknik saja. Misalnya, ketika kita ingin menilai kemampuan menyimak, menulis, membaca dan berbicara kita bisa membacakan sebuah cerita kepada siswa, menyuruh siswa menyimaknya, kemudian menuliskan dengan bahasanya sendiri serta membacakannya atau menceritakan kembali di depan kelas.
d.Setiap teknik memiliki kekuatan dan keterbatasannya masing – masing
Tidak ada satu teknik pun yang dapat digunakan untuk setiap keperluan. Tes objektif misalnya, berguna untuk mengukur pengetahuan, pemahaman, dan penerapan. Tetapi untuk kemampuan mengekspresikan idea tau perasaan lebih cocok bila memalaki tes uraian.
e.Evaluasi hanya alat untuk mencapai tujuan bukan tujuan itu sendiri.
Hasil evaluasi harus digunakan sebagai upaya perbaikan untuk memperbaiki pembelajaran.

Kegiatan evaluasi paling tidak melibatkan 3 hal :
1.Mengumpulkan data, yang diperoleh melalui tes maupun non tes.
2.Mengolah atau mengubah data menjadi informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan
3.Menggunakan informasi tersebut sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Seperti mengubah penampilan guru, strategi pembelajaran dan lain sebagainya.
Berkaitan dengan hal tersebut. Scriven ( 1967, lewat Ten Brink, 1974 ) mengemukakan bahwa proses penilaian terdiri dari tiga komponen, yaitu mengumpulkan informasi, pembuatan pertimbangan, dan pembuatan keputusan. Ia mengartikan penilaian sebagai “ proses memperoleh informasi, mempergunakannya sebagai bahan pembuatan pertimbangan, dan selanjutnya sebagai dasar pembuatan keputusan ”. Ketiga komponen itu saling berkaitan satu dengan yang lain, dan karenanya dalam kegiatan penilaian ketiganya perlu dipahami secara jelas.

Adapun langkah – langkah proses penilaian yang dikemukakan di atas terdiri dari tiga macam :
1.Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini dilakukan sebelum pelaksanaan pengumpulan data, kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
a.Pelukisan secara rinci jenis pertimbangan dan keputusan yang akan dibuat
Contohnya, seorang guru diberi tugas oleh kepala sekolah untuk memilih tiga orang siswa yang terbaik untuk diikutsertakan dalam lomba deklamasi antar siswa SD sekabupaten.Tugas tersebut akan memudahkan dan memberi arah yang jelas dalam usaha mendapatkan informasi yang diperlukan.
b.Pelukisan informasi yang diperlukan.
Pelukisan informasi yang diperlukan akan mempermudah pamilihan teknik yang digunakan untuk memperoleh informasi tersebut. Misalnya, jika guru ingin menilai kemampuan psikomotor, tes perbuatan adalah tes yang digunakan untuk mendapat informasi yang sesuai.
c.Pemanfaatan informasi yang sudah ada.
Penilaian yang dilakukan hendaknya juga memanfaatkan informasi yang telah ada atau diperoleh sebelumnya. Informasi yang telah dimiliki itu dipergunakan bersama informasi yang diperoleh untuk membuat pertimbangan.
d.Penentuan kapan dan bagaimana cara memperoleh informasi
Perencanaan tentang waktu dan cara perlu diberitahukan kepada siswa agar mereka dapat melakukan persiapan sebaik mungkin.
e.Penyusunan atau pemilihan alat penilaian yang akan dipergunakan
Alat tes harus dipersiapkan dengan baik dan harus menjamin diperolehnya informasi yang diperlukan.

2.Tahap Pengumpulan data
a.Pengumpulan informasi yang diperlukan
Pengumpulan informasi dapat berupa pelaksanaan pengukuran di kelas maupun observasi. Agar informasi yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan, maka pengumpulan informasi harus menggunakan teknik yang sesuai dengan situasi dan kondisi.
Misalnya, jika guru ungin mengetahui kemampuan yang berkaitan dengan aspek sintesis dan evaluasi, maka tes esay lebih tepat untuk digunakan.
b.Analisis dan pencatatan informasi yang diperoleh
Pengolahan data dilakukan setelah data terkumpul, dan menggunakan teknik yang tepat. Hasil pengolahan itu kemudian dicatat untuk dipergunakan sebagai dasar pembuatan pertimbangan dan pengambilan keputusan pada langkah berikutnya.

3.Tahap penilaian

Penilaian yang dimaksud adalah penilaian terhadap informasi yang telah diolah sebelumnya. Berdasar hal tersebut maka akan dilakukan pembuatan pertimbangan dan pengambilan keputusan.
a.Pembuatan pertimbangan
Pertimbangan merupakan taksiran kondisi yang ada sekarang yang dipakai sebagai prediksi keadaan pada masa akan datang. Sehingga dalam pembuatan pertimbangan, segala kemungkinan harus benar – benar diperhitungkan sebagai dasar untuk mengambil keputusan.
b.Pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan harus berdasar pada pertimbangan – pertimbangan yang ada sebelumnya. Karena pada hakikatnya pengambilan keputusan adalah pemilihan salah satu pertimbangan yang dianggap terbaik. Oleh karena itu, pada langkah ini harus benar – benar hati – hati agar tidak terjadi kekeliruan. Setelah keputusan diambil, langkah berikutnya adalah mengumumkan hasil tersebut pada pihak – pihak yang membutuhkan.


2. Tujuan Penilaian
1. Untuk mengetahui hasil belajar yang diharapkan atau untuk mengetahui seberapa jauh tujuan – tujuan pendidikan yang telah ditetapkan itu dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan.
2. Penentuan tahap – tahap tujuan pembelajaran jangka pendek untuk mengarah pada pencapaian tujauan yang lebih besar
3. Untuk memberikan umpan balik bagi kegiatan belajar mengajar yang dilakukan serta sebagai umpan balik kegiatan mengajar guru.
4. Untuk memberikan informasi guna mengatasi kesulitan belajar siswa
5. Untuk memberikan objektivitas pengamatan kita terhadap tingkah laku belajar siswa.
6. Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bidang – bidang atau topik – topiktertentu.
7. Untuk menentukan layak tidaknya seorang siswa dinaikkan tingkat di atasnya atau dinyatakan lulus dari tingkat pendidikan yang ditempuhnya.
8. Pemilihan pengalaman belajar yang sesuai ( kegiatan belajar yang akan dialami oleh siswa ) di masa mendatang.

3. Pengertian Evaluasi Holistik

Evaluasi atau penilaian adalah suatu proses pengumpulan, pengolahan dan pemaknaan data (informasi) untuk menentukan nilai atau kualitas sesuatu yang terkandung di dalam data tersebut. Dalam pembelajaran hasil evaluasi digunakan untuk menilai kesesuaian dan ketercapaian tujuan, kegunaan bahan ajar serta keefektifan pembelajaran.

Penilaian dalam pembelajaran Bahasa Indonesia sebaiknya mengarah pada perkembangan dan kemajuan serta pencapaian siswa dalam hal pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan ketrampilan berbahasa (psikomotorik) baik lisan maupun tulisan, baik yang bersifat reseptif maupun aktif produktif.
Untuk mencapai hal tersebut kita dapat menggunakan pendekatan Penilaian atau Evaluasi Holistik. Menurut Hill dan Ruptic (1994) serta Routman (1994) dalam konteks pembelajaran Bahasa, penilaian holistik berpandangan bahwa unsur- unsur Bahasa (ejaan dan pungtuasi, struktur bahasa dan kosakata) serta keempat ketrampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) merupakan kemampuan berbahasa yang terpadu atau saling berkaitan erat. Itu semua diperoleh anak secara bertahap dan terus menerus, sedangkan pencapaian belajar bahasa siswa itu sendiri tidak terlepas dari latar belakang keluarga atau masyarakat, tingkat kecerdasan, minat, potensi, sikap dan usaha siswa sendiri.
Oleh karena itu, tidaklah tepat kalau penilaian siswa hanya didasarkan atas hasilnya saja, tanpa melihat keunikan setiap siswa serta proses belajar yang dilaluinya. Atas dasar itu pula, maka penilaian belajar Bahasa hendaknya dilakukan secara utuh dan terus menerus, disajikan dalam konteks berbahasa yang nyata dan wajar, serta meliputi aspek intelektual, emosional, dan sosial.
Itulah yang mendasari penggunaan evaluasi holistik untuk penilaian dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Penilaian Holistik ditandai oleh hal- hal berikut ini.
a.Didasarkan atas pengalaman keseharian berbahasa secara otentik (nyata dan wajar)
b.Dilakukan selaras dengan hakikat belajar bahasa sebagai suatu proses yang berkembang secara bertahap dan terus menerus, serta tujuan pembelajaran bahasa sebagai upaya untuk memahirkan anak dalam berbahasa sesuai dengan fungsi sebagai alat komunikasi.
c.Diarahkan pada penilaian proses dan hasil, serta dilakukan secara formal dan informal.
d.Menginformasikan kegiatan belajar mengajar atau apa yang terjadi di dalam kelas sehari- hari.
e.Memperhatikan keunikan siswa sebagai makhluk individual, artinya penilaian ini lebih menekankan pada pembandingan kemajuan dan hasil belajar yang dicapai oleh setiap siswa dengan pencapaian siswa sebelumnya.
f.Melibatkan siswa di dalam penilaian untuk mengukur kekuatan dan kelemahannya, menetapkan tujuan dan keputusan untuk kegiatan belajar berikutnya, serta mengembangkan kemandiriannya.

Penilaian Holistik memiliki 3 prinsip yaitu :
1.Memandang pembelajaran dan penilaian sebagai satu kesatuan.
2.Melibatkan siswa secara aktif di dalam belajar dan evaluasinya sendiri.
3.Melihat perkembangan belajar siswa, baik sebagai individu maupun kelompok, sebagai suatu proses yang unik untuk menyeluruh dan terus menerus.

Jenis-Jenis Penilaian Holistik.
Secara sederhana, penilaian holistik dapat diklasifikasikan berdasarkan prosedur dan alat penilaiannya yaitu :
1.Prosedur Penilaian
a.Penilaian Proses, yaitu penilaian yang dimaksud untuk memperoleh informasi atas hal- hal yang sedang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.
Contoh : Penilaian tentang perkembangan kemajuan siswa, masalah-masalah yang dihadapi siswa, serta sikap dan tanggapan siswa terhadap kemajuan yang diperolehnya dan masalah yang dihadapinya. Alat penilaian yang digunakan biasanya berupa nontes.
b.Penilaian Hasil, yaitu penilaian yang dimaksudkan untuk menentukan pencapaian atau hasil belajar siswa. Contoh : Penilaian dengan menggunakan tes tertulis (soal pilihan ganda, uraian, isian, benar-salah dan sebagainya) dan tes lisan (performance). Alat penilaian yang digunakan adalah tes dan nontes.
2.Alat Penilaian.
a.Tes, yaitu serangkaian pertanyaan atau tugas untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Tes ini dapat dilakukan secara lisan, tertulis dan perbuatan.
b.Nontes, yaitualat penilaian selain tes. Tehknik nontes ini dapat dilaksanakan dengan observasi, wawancara, dan portofolio.

a.Pengembangan Alat Penilaian
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan alat penilaiaan adalah sebagai berikut :
1.Menentukan tujuan.
•Untuk apa saya melakukan evaluasi?
2.Menentukan sasaran.
•Apa yang akan saya evaluasi?
3.Menentukan hasil evaluasi.
•Hasil evaluasi seperti apa yang saya inginkan?
4.Menentukan prosedur dan alat evaluasi yang cocok.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan alat penilaiaan pembelajaran bahasa untuk kelas rendah adalah sebagai berikut :
a.Kemampuan Siswa
Tidak semua anak masuk ke SD pernah mengalami masa pendidikan prasekolah atau taman kanak-kanak sehingga pengenalan baca tulis secara formal baru dialaminya ketika masuk SD. Di kelas I, mereka baru mengenal huruf dan merangkaikannya. Di kelas II cawu I dan II, mereka masih dalam taraf melancarkan baca tulis. Baru pada cawu III kelas II, mereka telah dapat melakukan baca tulis dengan lebih lancar. Dengan demikian, jenis penilaian dan tingkat kesukarannya pun harus disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan mereka.
b.Komponen Pelajaran Bahasa
Menurut Kurikulum 1994, materi pelajaran bahasa terdiri atas; kebahasaan (pengetahuan bahasa dan kosa kata), pemahaman (menyimak dan membaca), dan penggunaaan (berbicara dan menulis). Penilaian dapat dilakukan secara terpadu, artinya penilaian itu diarahkan pada kemampuan dan kemajuan siswa atas beberapa atau semua aspek pelajaran bahasa secara bersamaan dengan menggunakan satu alat tertentu.
c.Hakikat Belajar Bahasa
Belajar bahasa merupakan suatu proses individu yang berlangsung secara bertahap, terus-menerus dan otentik.
•Individu
Penilaian hendaknya lebih menekankan pada pembandingan kemajuan individu siswa dari waktu ke waktu.
•Bertahap
Penilaian hendaknya dilakukan dengan memperhatikan takaran kemampuan siswa yang diperoleh secara bertahap.
•Terus-menerus
Penilaian diarahkan kepada proses dan hasil dan dilakukan sepanjang masa pembelajaran.
•Otentik
Penilaian untuk belajar bahasa hendaknya disajikan dalam konteks kebahasaan yang wajar selaras dengan kenyataan berbahasa sehari-hari.

5. Alat Penilaian Tes
A.Tes Menyimak
Tes ini bertujuan untuk menilai kemampuan siswa dalam memahami isi makna. Pemahaman di sini dapat berupa identifikasi fonem, pola intonasi, atau kemengertian isi wacana lisan (dapat berupa cerita atau pengetahuan populer) Bahan yang akan dileskan disajikan .secara lisan, dan siswa dapat menjawabnya secara lisan atau tertulis. Dalam penyajiannya, tes ini dapat anda suarakan sendiri seperti dikte atau menggunakan alat bantu seperti radio atau kaset.
Untuk penilaian kemampuan menyimak, tes yang dapat digunakan di antaranya berikut ini :
a. Simak ulang
Tes ini digunakan untuk kelas 1 awal untuk menguji kemampuan siswa mengenali fenom atau bunyi bahasa lainnya. Guru menyuarakan kalimat atau wacana pendek dan siswa melafalkan atau menuliskannya.
b.Melengkapi
Di sini guru menyebutkan atau membacakan suatu kalimat yang salah satu katanya dihilangkan. Anak menyebutkan atau menuliskan kata yang tepat dengan konteks kalimat tersebut.
c. Menjawab pertanyaan dari wacana lisan
Guru membacakan wacana pendek, baik yang sifatnya monolog atau pun dialog. Berdasarkan wacana itu diajukan sejumlah pertanyaan. Sementara itu siswa menjawabnya secara lisan atau tertulis. Contoh:
Selain dengan menjawab pertanyaan, siswa pun dapat diminta untuk merangkum memparafrase, dan menanggapi isi simakan.

B. Tes Berbicara
Tes berbicara dimaksudkan untuk mengukur kemampuan berbahasa lisan anak dalam mengucapkan bunyi bahasa, menyampaikan ide, pikiran, atau perasaannya ketika berkomunikasi dengan orang lain. Bagi kelas-kelas awal keterampilan yang diujikan tentu saja masih sederhana. Oleh karena itu pun tes yang dapat digunakan untuk keperluan tersebut diantaranya seperti berikut
a. Ucap-ulang
Siswa diminta mengulang apa yang diucapkan gurunya. Tes seperti ini biasanya digunakan untuk menilai kemampuan mengucapkan bunyi bahasa dan intonasi.
b. Uraian lisan
Siswa diminta untuk menjelaskan atau menceritakan keluarganya, pengalamannya sendiri. atau pengetahuan mengenai topik tertentu selama jangka waktu yang telah ditetapkan.
c. Membuat atau menjawab pertanyaan dari satu wacana
Wacana yang disajikan dapat bersifat lisan atau tertulis. Berdasarkan wacana itu. siswa diminta menjawab atau mengajukan pertanyaan secara lisan. Di samping itu, guru juga dapat meminta anak untuk merangkum atau mengomentari wacana tersebut.
d. Percakapan
Guru meminta anak berpasangan untuk mempercakapkan sesuatu hal. Tes ini juga dapat dilakukan sekaligus dalam bentuk bermain peran.
e.Diskusi
Guru meminta sekelompok anak untuk mendiskusikan suatu topik. Mungkin tes ini lebih cocok untuk kelas 2 cawu terakhir dan kelas tinggi. Melalui diskusi, guru akan dapat melihat kemampuan anak mengemukakan dan mempertahankan pendapat.
f. Memberikan atau mendeskripsikan
Guru menampilkan gambar, benda, atau peristiwa, dan siswa memperhatikannya. Kemudian, siswa diminta untuk menjelaskan atau melukiskannya secara lisan.
g. Reka cerita gambar
Guru menyajikan; sebuah gambar, dan siswa diminta membuat cerita berdasarkan gambar tersebut.

C. Tes Membaca
Tes membaca di kelas awal dimaksudkan untuk menilai kemampuan siswa
mengenai. merangkaikan huruf, dan membacanya menjadi satuan yang
bermakna. serta memahami maksudnya. Untuk keperluan tersebut, maka tes
yang sesuai dengan siswa kelas awal di antaranya sebagai berikut.
a. Membaca nyaring
Guru menyajikan wacana tulis sederhana dan siswa membacakannya dengan bersuara. Dengan tes seperti ini, guru dapat menilai kemampuan siswa dalam mengidentifikasi unsur-unsur bahasa, melafalkan bacaan, dan memahaminya.
b.Menjawab dan mengajukan pertanyaan dari wacana tulis
(Tes seperti ini biasanya digunakan untuk menguji daya pemahaman siswa terhadap bacaan. Untuk keperluan itu, guru menyajikan wacana tulis sederhana. Kemudian, siswa membacanya secara nyaring atau dalam hati dan menjawab atau mengajukan pertanyaan yang berkenaan dengan wacana tersebut.
c. Mengisi Wacana Rumpang (klos)
Dalam membuat tes membaca dengan wacana rumpang atau tidak lengkap, guru hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini :
1) Pilihan wacana baru, yang belum dibaca siswa. Tentu saja, Anda pun harus memperhatikan kesukarannya sesuai dengan kemampuan kelas 1 atau 2.
2) Wacana yang disajikan tidak terlalu panjang, sekitar 200 kata.
3) Informasi wacana itu sempurna. Maksudnya, tidak tergantung pad, informasi sebelum atau sesudahnya.
4) Biarkan kalimat pertama, kedua, dan terakhir utuh.
5) Lakukan penghilangan kata pada kalimat kedua sampai menjelang kalimat terakhir dengan salah satu cara berikut :
-hitung setiap beberapa kata secara konsisten, misalnya setiap lima atau tujuh kata;
-setiap jenis kata tertentu, misalnya kata benda saja, kita sifat, kata kerja, atau kala tugas (kata depan, kala sambung, kata penghubung) saja.

D. Tes Menulis
Tes ini dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa dalam melambangkan unsur-unsur bahasa dan keterampilannya menuangkan ide, gagasan, dan perasaannya secara tertulis. Tes menulis yang dapat digunakan untuk kelas awal di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Menyalin kalimat atau wacana. pendek
b. Menyusun kata-kata atau kalimat acak menjadi kalimat atau wacana yang baik.
c.Membual cerita gambar
Guru menyajikan gambar. baik gambar tunggal atau beberapa potong gambar yang saling berkaitan, dan siswa menceritakan peristiwa atau sesuatu yang terdapat pada gambar tersebut.
d. Membuat gambar dan ceritanya
Siswa diminta menggambar sesuatu dan membuat cerita tentangnya. Jika ini diterapkan kepada anak-anak yang belum lancar menulis, Anda akan melihat bagaimana usaha anak melakukan simbolisasi tertulis. Tulisannya biasanya hanya berupa rangkaian huruf atau coretan yang tidak jelas maknanya bagi kita orang dewasa. Tetapi, ketika ditanyakan kepada si anak, biasanya ia akan dapat menjawab maksud tulisannya itu dengan baik.
e.Merangkum karangan
Guru memberikan satu karangan sederhana. Siswa diminta untuk meringkas atau merangkumnya.
f. Menyusun karangan sederhana
Siswa diminta membuat karangan sederhana dengan topik yang ditentukan sendiri oleh atau siswa dibebaskan untuk memilihnya. Karangan itu dapat berupa puisi, cerita sastra (dongeng, legcnda, hikayat), pengalaman siswa sendiri, tulisan populer, dan sebagainya.
g. Menyunting atau memperbaiki karangan
Karangan yang disajikan dapat berupa naskah karangan siswa sendiri; atau guru menyajikan sebuah wacana yang dirancang mengandung kesalahan ejaan, tanda baca, kosakata, atau kalimat. Kesalahan yang ditampilkan tentu saja disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa yang akan dievaluasi. Lalu, siswa diminta untuk menunjukkan kesalahan yang ada dan memperbaikinya.
h.Menanggapi secara tertulis suatu wacana
Guru menyajikan sebuah wacana (lisan atau tertulis), baik berupa wacana sastra atau karya ilmiah populer. Siswa diminta untuk memberikan penilaian atau komentar terhadap isi wacana tersebut. Tes ini tampaknya, lebih sesuai untuk kelas 2, yang sudah lancar menulis. Bacaan yang dikomentari biasanya berupa wacana sastra, atau wacana populer yang sesuai dengan daya pemahaman mereka.
Misalnya, guru meminta murid mendengarkan cerita yang dibacakannya, menjawab atau membuat pertanyaan secara tertulis, dan membacakan jawabannya. Tes seperti itu sudah mampu menguji kemampuan menyimak, menulis, dan membaca.
Dalam menerapkan tes terpadu ini, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Diantaranya berikut ini :
-tes bertolak dari wacana, baik lisan atau pun lisan;
-tes bertolak dari pemahaman (menyimak atau membaca) wacana dan menuju pada penggunaan (berbicara atau menulis);
-butir-butir tes berisi : tes pemahaman isi wacana, unsur-unsur bahasa (ejaan, pungtuasi, struktur, dan kosakata), organisasi wacana, dan aspek penalaran;
-tes penggunaan wacana berisi tes untuk menghasilkan wacana dengan mempertimbangkan isi, unsur-unsur bahasa, organisasi wacana, dan penalaran; serta
-tes dilaksanakan tanpa memisah-misahkan pengujian aspek-aspek kemahiran berbahasa yang bersifat pemahaman, penggunaan dan kebahasaan (Suyono dan Muslich, 1990 : 124-125)

7. Alat Penilaian Nontes
1)Pengamatan / Observasi
Pengumpulan informasi dilakukan dengan mengamati dan mencatat perilaku siswa yang terencana dan terarah.
Observasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat berikut ini :
a.Catatan anekdot berisi paparan perilaku siswa. Isinya dapat berupa perilaku/usaha siswa dalam belajar, kemampuan belajar, sikap, emosi, masalah/kesulitan siswa, dsb.
b.Daftar cek (check list) berisi nama-nama aspek yang ingin diselidiki sehingga harus disusun berdasarkan tujuan pengamatan itu sendiri. Tanda cek () dicantumkan bila aspek yang diselidiki itu muncul.
Dalam pengamatan ada beberapa hal yang perlu dilakukan guru :
a.Pengamatan sebaiknya menggunakan kerangka kerja secara tertulis yang membuat interprestasi hasil pengamatan tidak menyimpang dari apa yang dilihat.
b.Pengamatan sebaiknya memperhatikan anak-anak dari berbagai situasi kemahirwacana.
c.Pengamatan sebaiknya mempertimbangkan interaksi antara anak dan orang dewasa dalam belajar bahasa.
2).Koferensi Atau Wawancara
Pengumpulan informasi yang dilakukan dengan mengajukan sejumlah pertanyaan tersusun secara sistem kepada siswa secara individual dan mencatatnya.
3)Tugas
Penilaian kemajuan dan hasil belajar siswa melalui pengerjaan suatu tugas/proyek tertentu.
4).Portofolio
Penilaian yang dilakukan dengan cara pengumpulan informasi mengenai perkembangan dan kemajuan, tanggapan, serta sikap siswa melalui kumpulan hasil pekerjaan siswa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar